Strategi Inovasi
Pendidikan
Strategi inovasi pendidikan merupakan
salah satu faktor yang ikut menentukan keberhasilan dan efektivitas perubahan
sosial tergantung pada ketepatan penggunaan strategi. Untuk dapat memilih suatu
strategi yang tepat bukanlah suatu hal yang mudah. Hal ini dikarenakan suatu
strategi pendidikan memiliki kelemahan dan kelebihan, juga karena sebenarnya
strategi pendidikan itu terletek pada continuum dari tingkat yang paling lemah
(sedikit) tekanan paksaan dari luar, ke arah paling banyak (kuat).
Strategi pendidikan terdiri atas
empat macam yakni, strategi fasilitatif (facilitative strategies), strategi
pendidikan (re-education strategies), strategi bujukan (persuasive strategies),
dan strategi paksaan (power strategies). Dalam kempt strategi tersebut sulit
menemukan adanya strategi dan pendidikan dikarenakan pada kenyataannya tidak
memiliki batasan-batasan yang jelas untuk membedakan strategi yang satu denga
yang lainnya. Misalnya strategi fasilititatif, strategi fasilitatif mungkin juga
dapat di pakai dalam strategi pendidikan atau mungkin dalam strategi lainnya.
Namun tergantung pada pelaksanaan program perubahan social yang dapat memahami
berbagai macam strategi, dapat memilih untuk menentukan strategi yang akan
dapat mencapai suatu tujuan perubahan sosial. Macam-macam Strategi
inovasi pendidikan yaitu:
- Strategi Fasilitatif (facilitative strategies)
Strategi fasilitatif merupakan
pelaksanaan program perubahan sosial yang didalam nya lebih mengutamakan
penyediaan fasilitas. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan strategi
fasilitatif: Strategi fasilitatif dapat digunakan dengan tepat jika sasaran
perubahan (klien):
a.
Mengenal
masalah yang dihadapi serta menyadari perlunya mencari target perubahan
(tujuan).
b.
Merasa
perlu adanya perubahan atau perbaikan.
c.
Bersedia
menerima bantuan dari luar dirinya.
d.
Memiliki
kemauan untuk berpartisipasi dalam usaha merubah atau memperbaiki dirinya
e.
Sebaiknya
strategi fasilitatif dilaksanakan dengan disertai program menimbulkan kesadaran
pada klien atas tersedianya fasilitas atau tenaga bantuan yang diperlukan.
f.
Strategi
fasilitas tepat juga digunakan sebagai kenpensasi motivasi yang rendah terhadap
usaha perubahan sosial.
g.
Menyediakan
berbagai fasilitas akan sangat bermanfaat bagi usaha perbaikan sosial jika
klien menghendaki berbagai macam kebutuhan untuk memenuhi tuntutan perubahan
sesuai yang diharapkan.
h.
Penggunaan
strategi fasilitatif dapat juga dengan cara menciptakan peran yang baru dalam
masyarakat jika ternyata peran yang sudah ada di masyarakat tidak sesuai dengan
penggunaan sumber atau fasilitas yang diperlukan.
i.
Usaha
perubahan dengan menyediakan berbagai fasilitas akan lebih lancer pelaksanaanya
jika pusat kegiatan organisasi pelaksana perubahan sosial, berada di lokasi
tempat tinggal sasaran (klien).
j.
Strategi
fasilitatif dengan menyediakan dana serta tenaga akan sangat diperlukan jika
klien tidak dapat melanjutkan usaha perubahan soaial karena kekurangan sumber
dana dan tenaga.
k.
Perbedaan
sub bagian dalam klien akan menyebabkan
perebedaan fasilitasvyang diperlukan untuk penekanan perubahan tertentu pada
waktu tertentu.
Strategi fasilitatif kurang efektif jika:
a.
Digunakan
pada kondisi sasaran perubahan yang sangat kurang untuk menentang adanya
perubahan sosial.
b.
Perubahan
diharapkan berjalan dengan cepat, serta tidak sikap terbuka dari klien untuk
menerima kebutuhan.
c.
Sebagai
suatu gambaran agar dapat membantu kita untuk memahami dasar-dasar atau
penggunaan strategi fasilitatif tersebut, seandainya strategi fasilitatif itu
akan digunakan untuk memperbaharui bidang pendidikan. Adanya suatu kurukulum
baru dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses perlu dibutuhkan
perubahan dan pembaharuan kegiatan belajar mengajar. Jika keperluan tersebut
dibutuhkan pendekatan fasilitatif yang mengutamakan program pembaharuan dengan
menyediakan berbagai macam fasilitas.dan sarana yang diperlukan . tetapi
fasilitas dan sarana itu tidak akan memberikan banyak manfaat dan menunjang
perubahan jika para guru atau pelaksana pendidikan sebagai sasaran pendidikan
tidak dapat memahami masalah pendidikan yang dihadapi, mereka tidak merasa
perluadanya suatu perubahan pada dirinya, tidak perlu dan tidak bersedia
menerima bantuan baik dari luar atau dari yang lain, tidak memiliki kemauan
untuk berpartisipasi dalam usaha pembaharuan. Dengan demikian maka sarana dan
fasilitas yang ada jadi sia-sia. Oleh sebab itu sebaiknya penggunaan strategi
fasilitatif diringi program yang dapat menumbuhkan perubahan pada klien
(sasaran perubahan) akan perlunya perubahan dan memanfaatkannya semaksimal
mungkin.
- Strategi Pendidikan (re-educative strategies)
Menurut ( Zaltman, Duncan, 1977:111 )
Strategi Pendidikan dapat didefinisikan sebagai perubahan sosial atau
pengajaran kembali ( re-education ), pendidikan dipakai untuk mencapai
perubahan sosial. Dengan demikian jika pendidikan menggunakan strategi pendidikan itu sama saja mengadakan
suatu perubahan sosial dengan cara menyampaikan fakta, dengan begitu orang yang
menggunakan fakta atau informasi itu dapat menentukan dan mengambil tindakan
yang akan dilakukanya. Setiap manusia memiliki dasar pemikiran yang
berbeda-beda untuk dapat membedakan
fakta serta memilih untuk mengatur sikap atau tingkah lakunya apabila fakta itu
ditujukan kepadanya.
Penggunaan strategi pendidikan dalam
suatu pendidikan sangat perlu karena untuk mempermudah proses pendidikan
sehingga dapat mencapai hasil yang optimal. Tanpa strategi yang jelas, proses
pendidikan tidak akan terarah sehingga tujuan pendidikan yang telah efektif dan efisien semuanya
sia-sia.
a.
Strategi
pendidikan akan dapat digunakan secara tepat dalam kondisi dan situasi sebagai
berikut:
b.
Apabila
perubahan sosial yang diinginkan, tidak terjadi dalam waktu yang singkat.
c.
Apabila
sasaran perubahan ( klien ) belum memiliki keterampilan atau pengetahuan
tertentu yang dibutuhkan untuk melaksanakan program perubahan sosial.
d.
Apabila
menurut perkiraan akan terjadi penolakan yang kuat oleh klien terhadap
perubahan yang diharapkan.
Strategi pendidikan untuk
melaksanakan program perubahan akan efektif
jika: Digunakan untuk menanamkan prinsip-prinsip yang perlu dikuasai
untuk digunakan sebagai dasar tindakan selanjutnya sesuai dengan tujuan
perubahan sosial yang dicapai. Disertai dengan keterlibatan berbagai pihak
misalnya dengan adanya :sumbangan dana, donator, serta berbagai penunjang yang
lain.
- Strategi Bujukan (persuasive strategies)
Starategi bujukan merupakan strategi
yang digunakan dengan cara membujuk para sasaran perubahan agar mau mengikuti
perubahan sosial. Strategi bujukan ini akan berhasil jika alasan yang diberikan
rasional, fakta yang akurat. Biasanya strategi ini digunakan pada saat kampanye
atau sebuah reklame pemasaran dari hasil perusahaan. Namun terkadang strategi
bujukan ini muncul ketika saling berkomunikasi tanpa disadari.
Berhasil atau tidaknya
suatu strategi dipengaruhi hal-hal berikut:
a.
Strategi
bujukan tepat dugunakan bila sasaran perubahan
-
Tidak
berpartisipasi dalam proses perubahan social.
-
Berada
pada tahap legitimasi dalam pengambilan keptusan menerima atau menolak
perubahan social.
-
Diajak
mengalokasikan sumber penunjag.
b.
Strategi
bujukan tepat digunakan jika:
-
Masalah
dianggap kurang penting.
-
Tidak
memiliki alat control langsung terhadap sasaran perubahan.
-
Terdapatnya
anggapan beresiko.
-
Perubahan
tidak dapat dicobakan, sulit dimengerti dan tidak dapat diamati secara
langsung.
-
Dimanfaatkan
untuk melawan penolakan terhadap perubahan social.
- Sretegi Paksaan (power strategies)
Strategi paksaan merupakan strategi
yang digunakan dalam pelaksanaan program perubahan sosial dengan cara memaksa
klien (sasaran perubahan) untuk mencapai tujuan perubahan. Apa yang dipaksa
merupakan bentuk hasil target yang diharapkan. Ukuran hasil target perubahan
tergantung dari kepuasan pelaksanaan perubahan. Kekuatan paksaan dipengaruhi
oleh ketatnya pengawasan yang dilakukan pelaksana perubahan, tersedianya
berbagai alternatif untuk mencapai tujuan perubahan, dan juga tergantung
tersedianya dana (biaya) untuk menunjang pelaksanaan program. Penggunaan
strategi perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a.
Strategi
paksaan dapat digunakan apabila pertisipasi klien terhadap proses perubahan
sosial rendah dan tidak meu meningkatkan partisipasinya.
b.
Strategi
paksaan juga tepat digunakan apabila klien tidak merasa perlu untuk berubah
atau tidak menyadari perlunya perubahan sosial.
c.
Strategi
paksaan tidak efektif jika klien tidak memiliki sarana penunjang untuk
mengusahakan perubahan dan pelaksanaan perubahan juga tidak mampu mengakannya.
d.
Strategi
paksaan tepat digunakan jika perubahan sosial yang diharapkan harus terwujud
dalam waktu singkat. Artinya tujuan perubahan harus segera tercapai.
e.
Strategi
paksaan juga tepat dipakai untuk menghadapi usaha penolakan terhadap perubahan
sosial atau untuk cepat mengadakan perubahan sosial sebelum usaha penolakan
terhadapnya bergerak.
f.
Strategi
paksaan dapat digunakan jika klien sukar untuk mau menerima perubahan sosial
artinya sukar dipengaruhi.
g.
Strategi
paksaan dapat juga digunakan untuk menjamin keamanan percobaan perubahan sosial
yang telah direncanakan.
Pada saat pelaksanaan
perubahan sosial sering digunakan kombinasi antara berbagai macam strategi. Hal
ini disesuaikan dengan tahap serta kondisi dan situasi klien pada saat
berlangsungnya proses pengambilan keputusan untuk menerima atau menolak
perubahan sosial.
Komentar
Posting Komentar