1.
Rangkuman ketiga jenis kelas rangkap
menurut Katz (1992)
Jawaban:
Katz (1992), menegaskan
bahwa kelas rangkap dilaksanakan tidak hanya karena alasan-alasan letak
gegorafis, kekurangan murid, atau kekurangan tenaga guru, akan tetapi lebih
dari itu adalah bagaimana meningkatkan mutu pendidikan melalaui fasilitasi yang
tinggi bagi perkembangan dan potensi siswa.
Oleh karena itu dia mengembangkan tiga jenis kelas rangkap dalam rangka
pembelajaran;
1) Combined grades,
2) continuous progress,
3) mixed age/multiage grouping.
Model pertama Combine
grades; atau juga dikatakan sebagai combined classess, dimana dalam satu kelas
terdapat lebih dari satu tingkatan kelas anak.
Membagi kelas menjadi beberapa bagian sesuai dengan tuntutan kurikulum
untuk beberapa tingkatan atau hanya dua tingkatan. Tujuan utamanya adalah untuk memaksimalkan
kemampuan siswa dan pemahaman lingkungan juga meningkatkan sikap dan pengalaman
dalam kelompok-kelompok umur yang berbeda.
Model kedua Continuous
progrees; model ini berupa kelompok anak dengan pencapaian kurikulum yang
tinggi dimana proses belajar mengajar melihat keberlanjutan pengalaman dan
tingkat perkembangan anak, dalam model ini setiap anak berkesempatan untuk
terus berkelanjutan dalam mengikuti setiap tingkatan kelas sesuai dengan lama
sekolah, tujuannya adalah setiap anak berkesempatan untuk memperoleh keuntungan
dari perbedaan umur dan perbedaan sikap dan kemampuan ketika belajar bersama.
Model ketiga mixed
age/multiage grouping; dimana proses pembelajaran dan praktek kurikulum
memaksimalkan keuntungan dari berinteraksi dan bekerjasama dari beragam
umur. Dalam model ini grup dibuat secara
fleksibel atau proses re-gruping anak dibuat dalam kelompok umur, jenis kelamin,
kemampuan, mungkin terjadi satu guru mengajar untuk lebih dari satu tahun. Alasan
dengan menggunakan model berbagai tingkatan umur ini multiage grouping ini adalah;
1) memberikan kesempatan kepada anak
untuk belajar tanpa rasa takut dan salah,
2) siswa disediakan kegiatan dengan
berbagai jenis,
3) dengan model ini memungkinkan anak
dapat belajar tentang aspek sosial, pemahaman tentang diri dan orang lain,
kepercayaan diri dan konsep diri, partisipasi anak dalam kelompok, pada
akhirnya dapat meningkatkan hubungan sosial dan pertemanan,
4) tidak ada titik signifikansi
antara kelompok umur tertentu dengan beragam umur dalam pencapaian prestasi di
kelas.
2.
Buatlah simpulan persamaan dan
perbedaan ketiga model tersebut!
Jawaban:
·
PERSAMAAN :
1)
Combined grades: memiliki tujuan untuk memaksimalkan kemampuan
siswa dan pemahaman lingkungan juga meningkatkan sikap dan pengalaman dalam
kelompok-kelompok umur yang berbeda.
2)
Continuous progress: memiliki tujuan agar setiap anak
berkesempatan untuk memperoleh keuntungan dari perbedaan umur dan perbedaan sikap
dan kemampuan ketika belajar bersama.
3)
Mixed age/multiage grouping: proses pembelajaran dan praktek
kurikulum memaksimalkan keuntungan dari berinteraksi dan bekerjasama dari
beragam umur.
·
PERBEDAAN:
1.
Combined grades memiliki ciri: dalam satu kelas terdapat lebih dari
satu tingkatan kelas anak, membagi kelas menjadi beberapa bagian sesuai dengan
tuntutan kurikulum untuk beberapa tingkatan atau hanya dua tingkatan.
2. Continuous progress memiliki ciri: model ini berupa kelompok anak
dengan pencapaian kurikulum yang tinggi dimana proses belajar mengajar melihat
keberlanjutan pengalaman dan tingkat perkembangan anak, dalam model ini setiap
anak berkesempatan untuk terus berkelanjutan dalam mengikuti setiap tingkatan
kelas sesuai dengan lama sekolah,
3. Mixed age/multiage grouping memiliki
ciri: proses
pembelajaran dan praktek kurikulum memaksimalkan keuntungan dari berinteraksi
dan bekerjasama dari beragam umur. Dalam
model ini grup dibuat secara fleksibel atau proses re-gruping anak dibuat dalam
kelompok umur, jenis kelamin, kemampuan, mungkin terjadi satu guru mengajar
untuk lebih dari satu tahun.
3.
Menurut anda mana yang lebih cocok
diterapkan di Indonesia
Jawaban:
Multigrade teaching atau
pembelajaran kelas rangkap di SD sudah banyak dilaksanakan di Indonesia di
negara-negara maju hal ini sudah menjadi bagian dari sistem pendidikan secara
utuh. Pengembangan dan penggunaan model
ini dilakukan karena faktor kekurangan tenaga guru, letak geografis yang sulit
dijangkau, jumlah siswa relatif kecil, keterbatasan ruangan, atau
ketidakhadiran guru.
Pembelajaran Kelas
Rangkap yang sesuai di Indonesia menurut saya adalah “Combined grades” karena jenis pembelajaran kelas rangkap ini merupakan
model pembelajaran dengan mencampur beberapa siswa yang terdiri dari dua atau
tiga tingkatan kelas dalam satu kelas dan pembelajaran diberikan oleh satu guru
saja untuk beberapa waktu. Pembelajaran kelas rangkap sangat menekankan dua hal
utama, yaitu kelas digabung secara terintegrasi dan pembelajaran terpusat pada
siswa sehingga guru tidak perlu berlari-lari antara dua ruang kelas untuk
mengajar dua tingkatan kelas yang berbeda dengan program yang berbeda. Namun
murid dari dua kelas bekerja secara sendiri-sendiri di ruangan yang sama,
masing-masing duduk di sisi ruang kelas yang berlainan dan diajarkan program
yang berbeda oleh satu guru.
Alasan dilakukannya
Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) tidak hanya karena faktor kekurangan
guru. PKR juga sering diterapkan karena
alasan letak geografis yang sulit dijangkau, ruangan kelas terbatas, kekurangan
tenaga guru, jumlah siswa yang relatif sedikit, guru berhalangan hadir, atau
mungkin faktor keamanan seperti di daerah pengungsi.
SEMOGA BERMANFAAT :)
BalasHapus